Sunday, November 27, 2011

KOMPARASI PISTON=>KERAS SAJA TIDAK CUKUP


Ubahan mesin yang kerap dilakukan kadang suka membutuhkan komponen bermaterial badak. Misalnya piston. Karena komponen ini fungsinya sangat fital dalam menciptakan performa. Ibarat pemompa jantung. Tentunya kalau pompa tersebut rusak atau mudah jebol, jantung sudah pasti akan berhenti bekerja dan tamat lah riwayat si empunya jantung. Apalagi kalau tekanan (kompresi) di ruang pompanya tinggi. 

Nah, umumnya dalam pemilihan piston, ada beberapa faktor yang kerap jadi pertimbangan. Selain soal dome, konstruksi, bahan  serta teknik pembuatan, tingkat kekerasan dari piston itu pun masuk sebagai salah satu kriteria. Tapi untuk item terakhir itu, pasti akan sulit dilacak bila bukan berdasarkan dari pengalaman.

Bisa saja diuji tingkat kekerasannya pakai alat khusus. Yaitu hardeness tester. Misal merek Rockwell Hardeness Tester (RHT) buatan Amerika (gbr.1). Kebetulan alat tersebut dimiliki oleh Bintang Racing Team (BRT) yang bermarkas di Cibinong, Jabar. Meski hanya berupa kotak kecil yang dilengkapi pulpen khusus sebagai sensor pembaca kekerasan logam, harganya mahal lo. Coba tebak mencapai berapa? Seharga OTR Honda Tiger, Cuy (Rp 25 juta)!

“Alat ini biasa saya pakai buat mengukur tingkat kekerasan bahan-bahan untuk seating klep. Bisa juga dipakai buat ngukur kekerasan piston,” bilang Tommy Huang, bos BRT.

Asalkan, lanjut Tommy, bagian yang diuji kekerasannya mempunyai ketebalan 10 mm.

Oke, untuk bahan pengujiannya, kami coba mengambil 4 sampel piston buat beberapa merek motor. Tentu spek yang beragam. Mulai dari piston standar bawaan motor alias produk OEM serta produk aftermarket dengan teknik pembuatan berlainan, yaitu sistem casting mau forged piston.

Piston-piston tersebut antara lain piston standar bawaan Kawasaki Ninja 250R, produk Wiseco buatan Amerika untuk motor yang sama (Ninja 250R0, piston FIM 5 buat Yamaha Jupiter Z dan terakhir piston FIM2 buat Honda Karisma (gbr.2).

Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3

Gbr 4
“Biasanya piston dengan teknik pembuatan model tempa (forged) kayak Wiseco (gbr.3) kekerasannya lebih tinggi dibanding model cor biasa (casting),” prediksi Tommy sebelum dilakukan pengujian menggunakan HRT. Dari pada asal nebak, yuk kita buktikan saja!

Mulai yang diuji pertama adalah piston OEM Ninja 250R yang mengusung jenis casting. Bagian yang diuji ada bidang datar dan punya ketebalan mencukupi, yakni di daerah kepala piston pada coakan klep. “Pengukurannya dilakukan di setiap coakan klep (ada 4 buah coakan). Karena masing-masing bagian belum tentu proses pengecorannya rata. Nanti diambil nilai rata-ratanya,” terang Tommy.

Hasilnya setelah 4 kali menguji, didapat nilai rata-rata 162 HB untuk piston ini (OEM Ninja 250R). HB adalah satuan kekerasannya. Kemudian dilanjutkan dengan piston Wiseco pakai metode yang sama. Ternyata benar apa yang dikatakan Tommy. Wiseco yang teknik pembuatannya model tempa (forged) memiliki nilai rata-rata kekerasan hingga 169 HB.

Pengujian kemudian berlanjut lagi pada dua produk FIM, yaitu FIM2 dan FIM5. Pada kedua piston ini, titik pengukuran dilakukan di pucuk piston yang datar (gbr.4). Karena luas coakan klep tidak memadai untuk dipasang pen pengukur kekerasan. Pengukuran hanya dilakukan sebanyak 3 kali pada beberapa bidang di pucuk piston. Hasilnya didapat FIM5 mempunyai tingkat kekerasaran rata-rata mencapai 162 HB. Sementara FIM2 bisa sampai 165 HB.

“Soalnya FIM2 kepala pistonnya lebih tebal dibanding FIM5. Sehingga sudah pasti tingkat kekerasannya lebih tinggi dari FIM2 maupun OEM Ninja 250 yang lebih tipis,” jelas Tommy. Namun, lanjut pria berkacamata ini, biasanya piston yang baik tak cuma harus keras. Tetapi juga harus memiliki kelenturan agar tahan terhadapan gebukan kompresi.

sumber:otomotifnet
kindriderz.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment

AFFILLIATE

Program Affiliate Indowebmaker